NASKAH MONOLOG TEATER "KASIR KITA"
NASKAH MONOLOG TEATER "KASIR KITA"
KASIR KITA
Karya : Arifin C. Noer
Itulah rancangan saya. Saya sudah berketetapan hati. Saya sudah betul – betul siap sekarang. Siap dan nekat. Oh, nanti dulu. Saya ingat sekarang. Saya belum punya pistol. Dimana saya mendapatkannya ? inilah perasaan seorang pembunuh. Jenis pembunuh ini adalah pembunuh asmara. Nah, saya mendapatkan judul karangan itu “PEMBUNUH ASMARA !” Lihatlah !!! Dunia telah berubah hanya dalam tempo beberapa anggukan kepala. Persetan...!!! Oooooh .....betapa marah saya, kepala saya.
Saya sekarang merasa bersahabat sekali dengan Othello. Saudara tentu kenal dia, bukan ? Dia adalah tokoh pencemburu dalam sebuah drama Shakesspeare yang terkenal. Othello, dia bangsa Moor sedang saya bangsa Indonesia namun sengsara dan senasib akibat kejahilan cantiknya anak cucu Hawa.
(TELEPON BERDERING. SEPERTI SEEKOR HARIMAU IA MENGANGKAT) Itu dia (MENGANGKAT TELEPON DENGAN KASAR)
Hallo..!!! Ya disini Jajuli !!! Kasir !!! Ada apa ? (TIBA – TIBA BERUBAH) Oh maaf pak...!!! Pak Sukandar, kepala saya. Maaf pak saya kira istri saya, saya baru saja marah – marah...... ya, ya memang saya... ya, ya (TERTAWA) ya,.. pak.(BATUK DAN MENYEDOT HIDUNG) Influensa... ya, ya mudah – mudahan pak.. ya pak.... ya... Saudara dengarlah dia mengharap saya masuk kantor untuk pemberesan keuangan.. ya .... Insya Allah pak... ada pegawai baru ? siapa ? istri saya, pak ?!(TERTAWA) Ya pak... (BATUK DAN MENYEDOT HIDUNGNYA) Ya pak. Terima kasih pak. Besok. (MELETAKAN TELEPON)
Persetan..!!!! Saya yakin istri saya betul – betul kehabisan uang sekarang. Apakah saya mesti mangasihani dia ? Tidak ! Saya mesti membunuhnya (SEAKAN MENUSUKAN PISAU) Singa betina ! Ya sebaiknya dengan pisau saja, Pisau....
(TELEPON BERDERING)
Persetan ! Sekarang pasti dia (MENGANGKAT TELEPON) Kasir disini ! Kasir PT. Dwi Warna !! Apa lagi ? Jahanam !!! Ular betina yang menjadikan saya koruptor. Jangan bicara apa – apa !!!Tutup mulutmu !!! Mulutmu bau busuk !!! (MELETAKAN TELEPON) Jahanam !!! Apakah saya harus membunuh tiga orang dalam seketika. Oh ya, tadi saya sudah memikirkan pisau. Ya, pisaupun sudah cukup untuk menghentikan jantung mereka. (GERAM) Sayang sekali.... pengarang sandiwara ini bukan seorang pembunuh sehingga hambarlah cerita ini. Tapi tak apa, toh saya sudah cukup marah untuk membunuh mereka. Namun sebaiknya saya maki – maki alisnya yang nista itu. Saya harus meneleponnya !!!
(MENGANGKAT TELEPON)
Kemana saya harus menelepon ? Tidak ! (MELETAKAN TELEPONNYA) Demi Allah, saudara mesti mengerti perasaan saya. Bilanglah pada istri saudara – saudara “ manis, jagalah perasaan suamimu, supaya jangan bernasib seperti Jajuli.” Ya, memang saya laki – laki yang malang, tapi semuanya sudah terlanjur. Saya pun telah siap. Dengan menyesal sekali saya akan menjadi seorang pembunuh dalam sandiwara ini.
Bulan berkabut, udara beku oleh dendam, sementara belati telah siap tesembunyi di pinggang, saya ketuk pintu serambinya. Mereka pasti terkejut, lebih – lebih mereka terkejut melihat pandangan mata saya yang dingin, pandangan mata seorang pembunuh.
(TIBA – TIBA PENING KEPALANYA) Tapi kalau sekonyong – konyong muncul kedua anak saya ? Ita dan Iman, dan mereka berkata-kata “ (Pak, jangan bunuh ibu Pak ) 2x ?” (MEMUKUL – MUKUL KEPALA) Tuhanku !
(DUDUK DIA MELAMUN – DUA ORANG ANAKNYA, ITA DAN IMAN, 5 DAN 4 TAHUN MENARI – NARI DISEKELILINGNYA, DI TENGAH RUANG TENGAH ITU DENGAN SEBUAH NYANYIAN KANAK –KANAK, BUNGAKU)
Saudara – saudara bisa merasakan hal ini ? Saya tidak tahu lagi apakah istri saya cantik atau tidak ? Saya tidak mau tahu lagi apakah laki – laki itu jahanam apa tidak ? Saya hanya tahu anak – anaku.Tak ada yang lebih mutlak harus dipertahankan kecuali anak – anak itu. Saudara – saudara mengerti maksud saya, apakah hanya karena cemburu saya mesti merusak kembang – kembang yang tengah bermekaran itu.
(MALAIKAT – MALAIKAT KECIL ITU GAIB MENJADI UDARA)
Harus pergi kekantor. Akan saya katakan semuanya pada Pak Sukandar. Saya akan mengganti uang itu setelah besok saya jual beberapa barang dari rumah ini. Setelah semuanya beres saya akan memulai lagi hidup dengan tenang dan tawakal pada tuhan. Hari ini hari Jum’at, dimesjid setelah sembahyang saya akan minta ampun kepada Allah.
(TELEPON BERDERING)
Jahanam ! Kalau saudara mau percaya, inilah suddal itu.
(MENGANKAT PESAWAT TELEPON)
Ya, Misbach Jajuli (TERSIRAP DARAHNYA). Saudara, jantung saya berdebar seperti kala duduk diatas kursi pengantin. Demi tuhan, tak salah ini adalah suara istri saya. Oh, saya telah mencium bau bedaknya. Saya akan mencoba menyingkap kenangan lama. Hallo ?..... kenapa kau tidak menelepon tadi ?... ya, kekantor bukan ? memang saya agak sakit (AKAN BATUK TAPI TAK JADI) Ya ?..... manis, kau ingat laut pantai, pasir, tikar, kulit – kulit kacang......ah indah sekali bukan ?
Bagaimana ? ...... kawin ? ..... kau ? ....... segera ......lihatlah niat baik tidak mudah segera terwujud. Apa ?....... apa ? ..... hah ??? saudara, gila perempuan itu. Apakah ini bukan suatu penghinaan ? dia mengharap nanti sore saya datang kerumahnya untuk melihat calon suaminya itu cocok atau tidak baginya. Gila....!!! ya, tentu.....bisa !!!
(MELETAKAN PESAWAT TELEPON DENGAN KASAR)
Saya influensa, bukan ?
Download Naskah Monolog

Posting Komentar untuk "NASKAH MONOLOG TEATER "KASIR KITA""